Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 25 November 2008

Ajari Anak Jangan Sambil Emosi Dong!

Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak -- yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia -- sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang. Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua.
Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.
Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan 'tindakan disiplin' tersebut.
Dari survei itu, 90% mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dan 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orang tua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak.
Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa.
Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.
Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakukan anak yang salah seharusnya diperbaiki, bukan dibentak-bentak dan dimarahi.
Kalau mengajari anak, sebaiknya emosi orang tua dijagalah![]

Anak Pintar Sejak Dalam Kandungan

Adalah hal yang sangat naif, ketika seorang anak menjadi bodoh, nakal, pemberang, atau bermasalah, lalu orang tua menyalahkan guru, pergaulan di sekolah, dan lingkungan yang tidak beres.
Tiga Faktor Itu
hanya berperan dalam proses perkembangan anak, sedangkan bakat anak itu menjadi bodoh, nakal, atau pemberang justru terletak dari bagaimana orang tua memberikan awal kehidupan si anak tersebut.
Bukan hal aneh bahwa seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih dalam kandungan. Malah, sejak masih janin, orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bisa seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi. Hal ini diungkap dokter spesialis anak, dr Sudjatmiko, MD SpA.
Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, menurut Sudjatmiko, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik.
Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.
Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya--boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.
Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. "Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya," kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. "Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya.
Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya," tambahnya.
Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitmen antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bisa dianggap mengganggu.
Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. "Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram," lanjut Sudjatmiko.
Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang.
Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. "Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi," ujar Sudjatmiko.
Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.
Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mula-mula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.
Sudjatmiko juga menyarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. "Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa," katanya. "Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.
Sementara itu, psikolog anak Dra Surastuti Nurdadi juga mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. "Stimulasi menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.
Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim.
Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang 'merangsang bayi' ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.
Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita simak penuturan Surastuti yang juga dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. Musik klasik, katanya, memiliki berbagai macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih berkonsentrasi.
"Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari lingkungannya," ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini. Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras kepada bayi dalam kandungan. Konon, justru menyebabkan timbulnya kebingungan pada si jabang bayi![]

Minggu, 23 November 2008

10 Resolusi Sehat Buat Si Kecil

Mari, sambut tahun baru ini bersama si kecil dengan penuh semangat. Rencanakanlah langkah tepat agar anak Anda dapat tumbuh sehat dan cerdas. Agar siap jadi generasi penerus bangsa yang gemilang.
Inilah langkah tepat yang bisa segera Anda lakukan agar si kecil tumbuh sehat. Panduan ini dikeluarkan oleh The American Academy of Pediatrics agar tahun baru 2005 ini hidup Anda sekeluarga lebih bahagia dan lebih sehat.
Jadwalkan Imunisasi Terbaru
Coba periksa kembali catatan imunisasi yang telah dijalani anak Anda, sejak masih bayi. Anda bisa bertanya pada dokter anak langganan tentang beragam imunisasi lanjutan yang bermanfaat bagi pertumbuhan si kecil.
Ciptakan Lingkungan Rumah Bebas Rokok
Ruangan yang dipenuhi asap rokok dapat memicu munculnya infeksi telinga, radang paru-paru dan bahkan Sindrom kematian mendadak pada bayi. Jika Anda perokok, cobalah berhenti sekarang juga, demi kesehatan anak. Ingatlah, jika tak ingin si anak bila besar nanti jadi perokok, ciptakanlah lingkungan rumah bebas asap rokok lebih dulu.
Mari Membaca Bersama
Mulailah kebiasaan membaca buku bersama anak, sejak dia berusia 6 tahun. Kegiatan ini dapat menjadi salah satu cara berkomunikasi dengan anak, sekaligus memotivasi mereka jadi gemar membaca. Selain itu, Anda berdua juga punya bahan untuk didiskusikan bersama dan dapat mengetahui jalan pikiran si anak.
Perhatikan Keamanan
Bila Anda pergi berkendara bersama anak, pastikan sabuk pengaman telah terpasang. Selain itu, bila anak Anda hobby bersepeda, bersepatu roda atau main skateboard, pastikan mereka telah memakai helm pelindung kepala dan pengaman siku serta lutut. Pokoknya, keamanan si kecil haruslah Anda nomorsatukan.
Ciptakan Rumah yang Aman
Coba perhatikan setiap ruangan di rumah Anda. Sudahkah tempat-tempat tersebut aman bagi keselamatan anak Anda? Tutuplah titik-titik listrik yang terbuka agar tidak membahayakan nyawa si kecil. Jangan biarkan paku, jarum, pisau, gunting atau benda-benda tajam lainnya tercecer atau tidak disimpan dengan baik.
Monitor Media si Anak
Awasi segala sesuatu yang didengar, dilihat anak Anda, entah lewat televisi, radio, film maupun musik. Anak-anak sangat mudah dipengaruhi lewat segala sesuatu yang mereka lihat dan dengar. Apalagi saat ini, media massa cenderung mengekspos kekerasan. Jika Anda merasa acara televisi atau film yang ditontonnya tidak sesuai dengan umur si anak, segera ajak dia beralih ke program anak-anak.
Kenalkan Bahaya Merokok dan Minuman Beralkohol
Tak ada salahnya, Anda telah memberitahu tentang bahaya merokok dan kebiasaan minum minuman beralkohol pada anak, sejak usia dini. Ini dimaksudkan agar mereka tak salah mempersepsikan iklan-iklan rokok di televisi atau di media cetak. Umumnya, iklan tersebut cenderung mengekspos bahwa merokok atau minum minuman beralkohol itu sangatlah berkelas, gaya dan sehat. Selain itu, pastikan juga anak Anda tidak menonton program televisi yang sangat menonjolkan kebiasaan merokok dan minum-minum.
Sajikan Makanan Bergizi
Nutrisi cukup membuat anak Anda bisa tumbuh, berkembang dan belajar dengan baik. Nutrisi yang baik mencakup keseimbangan protein dan karbohidrat. Hindari kebiasaan makan junk food atau makanan siap saji terlalu sering.
Ikuti Pendidikannya
Sesekali kunjungilah sekolah anak. Bersikaplah aktif dalam paguyuban guru dan orang tua. Siap jadi sukarelawan bila ada proyek khusus di kelas anak Anda. Bantu si anak, saat menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Jika Anda menganggap penting pendidikan anak, maka dia juga akan bersikap sama.
Tunjukkan Cinta dan Perhatian
Sejak usia dini, motivasi dan rasa percaya diri seseorang telah dibangun। Hal itu mereka dapat dari orang tuanya. Maka, agar anak merasa dicintai dan dianggap penting kehadirannya, coba dengarkan dengan baik kala mereka bercerita. Pastikan pula mereka selalu aman dan dapat curahan cinta Anda. Katakan pada si anak bahwa Anda sungguh mencintai dan bangga padanya. Cara ini membuat anak tumbuh penuh percaya diri.[टीम बालिता cerdas]