‘Saya ibu rumah tangga. Punya anak usia 2 tahun dan 6,5 bulan. Si sulung, Aditya, amat lincah, ceria, sehat dan cerewet sekali. Sebagian orang yang telah mengenalnya akan menyatakan ia cerdas. Adit sangat suka menggambar. Melihat kegemarannya itu, saya dan suami mendaftarkannya ke sanggar melukis. Selain itu ia juga sudah bersekolah di sebuah playgroup dekat rumah yang memakai bahasa pengantar bahasa Inggris. Agar ia bisa lancar berkomunikasi, kami lalu menyertakannya dalam les bahasa Inggris untuk anak. Yang jadi pertanyaan kami, sudah benarkah cara kami mengoptimalkan kemampuannya?’
Itulah pertanyaan seorang ibu dalam rubrik konsultasi di sebuah media massa. Kalau mau jujur, sebenarnya pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan kita. Dengan alasan mengembangkan kemampuan anak, meski masih berusia batita, dimasukkanlah anak ke bermacam-macam les atau kursus. Melihat fenomena ini, lembaga les dan kursus, atau apa pun namanya, bermunculan bak jamur di musim hujan. Antrian para orangtua mendaftarkan anaknya pun terlihat semakin panjang dari waktu ke waktu. Tak cuma itu, produk-produk makanan untuk anak pun berlomba mencantumkan zat gizi ‘agen kecerdasan’ dalam kemasannya.
Agaknya, banyak yang dengan mudah menyimpulkan bahwa bila ingin menjadikan anak kita brilian, maka anak harus didaftarkan di berbagai les dan kursus, harus diberi makanan suplemen nutrisi jaringan otak, dan sebagainya. Apakah langkah ini tepat?
Brilian: Berkilau bagai Berlian
Sebelum berupaya mewujudkan anak brilian, sebaiknya kita mengetahui dulu definisi kata brilian. Psikolog senior Universitas Indonesia, Prof. DR. Utami Munandar, MPsi menganalogikan kata ‘brilian’ dengan kata ‘berlian’, salah satu jenis batu mulia. Menurutnya, ada kesamaan antara keduanya. ‘Sebagai batu mulia, berlian paling menonjol di kelasnya. Sama halnya, brilian di sini pun menginginkan seorang anak berkemampuan lebih sehingga menonjol dibanding yang lain. Itu sebabnya, banyak orangtua menginginkan anaknya brilian dengan berbagai cara.’
Sementara itu, Dra. Rose Mini A. Prianto, MPsi., menilai pengertian brilian saat ini masih rancu. Rose Mini, yang akrab disapa Romy, berpendapat bahwa pengertian brilian sendiri bukanlah gifted atau berbakat. Brilian, menurutnya, tidak hanya sekedar ber-IQ tinggi atau pintar matematika di sekolah dan dapat ranking. Tapi lebih dari itu, brilian harus memancarkan kemampuan lain di luar bidang-bidang tersebut.
Modalnya Kemampuan dan Bakat
Cara yang biasa ditempuh oleh para orangtua selama ini adalah memasukkan anak ke kursus dan les. Malah kadang-kadang tanpa bertanya dulu apa keinginan anak. Maka wajar jika hasil yang dicapai bak jauh panggang dari api. Apalagi kalau memang ada target menjadi anak brilian sungguhan. Ironisnya, kegagalan acap membuat orangtua semakin bersemangat menyuruh anak les, les dan les. Padahal, menurut Utami maupun Romy, cara ini tidak akan membuat kemampuan anak tergali, tapi malah sebaliknya.
Apakah mencetak anak brilian itu sulit? Tidak juga sebenarnya, asal orangtua mau lebih mengamati dan lebih memberi perhatian terhadap kemampuan anak. Sebab seorang anak bisa menjadi brilian jika orangtuanya mampu mengetahui atau menelusuri kemampuan apa yang dimiliki anaknya, lebih dari kemampuan yang lain. ‘Kemampuan-kemampuan itu kemudian bisa dikembangkan agar anak lebih menonjol. Selain itu, orangtua juga jadi tahu bakat anak,’ kata Utami yang juga salah seorang pencetus anak berbakat.
Bicara soal bakat, kadang untuk menjadikan anak kita lebih menonjol dibanding anak lain memang tak lepas dari aspek yang satu itu. Dengan mengetahui bakat anak, orangtua tak begitu sukar lagi mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anak agar lebih menonjol dibanding anak sebayanya. Romy lantas mengemukakan sebuah teori dari Rezulli, bahwa seorang anak berbakat adalah anak yang memiliki IQ dan kreativitas tinggi serta punya komitmen tinggi pada tugas yang diembannya. ‘Tiga syarat itu yang harus dimiliki agar seorang anak itu bisa disebut gifted atau berbakat,’ kata Romy yang kerap tampil di berbagai seminar maupun talkshow di televisi.
Mampu Memaksimalkan Potensi
Bagaimana ciri anak brilian? Romy menjelaskan, ciri-ciri brilian tak bisa diprediksi sejak dini. ‘Tapi, di dalam diri seorang anak brilian kemungkinan besar terdapat ‘sosok’ anak berbakat. Ini mengingat hasil sebuah penelitian yang menyatakan bahwa hanya 2,2 persen saja anak yang berbakat,’ imbuh Romy.
Ia mencontohkan pemain basket kelas dunia Micheal Jordan atau mantan juara Olimpiade di bidang bulu tangkis, Susi Susanti. ‘Mereka itu brilian dalam bidangnya masing-masing. Sementara untuk disebut brilian secara umum, orang tidak perlu harus menonjol. Yang penting, kapasitasnya betul-betul di atas yang dimiliki orang lain. Itu sebabnya saya sendiri lebih cenderung mengatakan bahwa anak brilian adalah seorang anak yang bisa memaksimalkan seluruh potensi yang ada pada dirinya,’ tutur Romy.
Persiapkan Berbagai Faktor
Untuk mencetak anak brilian, ada banyak faktor yang harus disiapkan oleh orangtua. Pertama, asupan gizi. Asupan gizi yang baik untuk calon anak brilian harus dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan (trimester pertama). Hal ini dikemukakan oleh dr. Rahmat, MSc dari bagian gizi Fakultas Kedokteran UI dan RSUPN Cipto Mangunkusumo.
‘Membuat anak jadi brilian harus dimulai sejak dalam kandungan. Sejak kehamilan trimester pertama, asupan protein ibu hamil harus cukup, tidak boleh kekurangan. Karena pada saat itu sedang terjadi pembentukan otak di dalam rahim,’ ujarnya. Senada dengan Rahmat, dokter anak dari RS Pondok Indah, Karel Staa M.D. pun mengatakan, ‘Banyak faktor yang bisa membuat anak menjadi brilian. Salah satunya, dengan memperhatikan asupan gizi ibu saat hamil.’
Kedua, lingkungan dan stimulus. ‘Untuk mendapatkan anak yang ‘lebih’ dari yang lain, orangtua harus mempersiapkan faktor lingkungan. Tanpa lingkungan yang mendukung, kemampuan anak yang sudah tergali tidak mengalami pengembangan,’ tegas Romy.
Sebagai ilustrasi, Romy mencontohkan seorang anak dari keluarga yang senang menyanyi. Sejak masih dalam kandungan, musical intelligence si anak sudah dirangsang. Tapi, bagaimana dengan aspek kecerdasan body kinestetic-nya’ ‘Kemampuan-kemampuan tersebut tidak datang bersamaan. Namun bisa jadi, kemampuan musikal datang lebih dahulu karena orangtua biasa menirukan lagu.’
Seiring perjalanan waktu, bayi yang cerdas secara musikal tadi bisa juga memiliki kemampuan berhitung atau kemampuan di bidang lainnya. ‘Namun harus dirangsang, agar hasilnya bisa lebih optimal.’ Apalagi mengingat setiap orang memiliki kemampuan yang tak merata. Seseorang yang menonjol di satu bidang, belum tentu bisa menonjol di bidang lain.
Peluang Multiple Intelligences
Bagaimana jika bayi telanjur lahir? Apakah masih bisa menjadikannya anak brilian? . Bisa. Teori multiple intelligence dari Howard Gardner menyebutkan ada tujuh kemampuan yang terdapat pada setiap orang, yaitu kemampuan verbal, kemampuan logis-matematik, kemampuan visual-spasial, kemampuan kenetis, kemampuan musikal, kemampuan iterpersonal dan kemampuan intrapersonal. Ketujuh aspek kecerdasan ini selalu bekerja in concert (bersama-sama) untuk memecahkan berbagai masalah. Dengan mengetahui adanya ketujuh potensi kemampuan tersebut, orangtua memiliki peluang untuk mengoptimalkan masing-masing potensi agar menjadi lebih menonjol.
Selain itu, perkembangan otak berlumlah selesai. Sampai usia 18 bulan, anak masih mengalami fase cepat (growth-spurt) perkembangan otak. Selama fase itu, Anda masih bisa mengoptimalkan aspek nutrisi, lingkungan dan stimulus. Dan kalaupun fase penting itu telah berlalu, Anda masih bisa membantu mengoptimalkan kemampuan anak Anda melalui pengayaan pengalaman. ‘Dengan memberikan pengalaman sebanyak mungkin dan mencoba meraih semua aspek kemampuan yang ada dalam diri anak, maka anak akan bisa memilih yang terbaik untuk dirinya.’
Motivasi
Segala upaya Anda untuk memiliki anak brilian akan sia-sia, jika Anda sendiri tidak memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik atau yang menonjol. ‘Doronglah anak meraih kecemerlangan atau derajat brilian itu. Misalnya dengan cara memberikan stimulasi atau rangsangan sejak dini dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada dalam diri anak tersebut.’ Namun kunci sukses paling penting dalam ‘proyek mencetak anak brilian’ ini adalah mengupayakan agar anak sehat dan bahagia. Itu saja. ‘Secara umum saya lebih cenderung menyarankan agar Anda
menjadikan anak-anak Anda sehat dan bahagia. Karena kedua hal itulah yang akan menentukan sejauh mana kapasitas atau potensi kemampuan di dalam dirinya bisa dioptimalisasikan dalam hidupnya,’ tegas Romy.[]
Itulah pertanyaan seorang ibu dalam rubrik konsultasi di sebuah media massa. Kalau mau jujur, sebenarnya pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan kita. Dengan alasan mengembangkan kemampuan anak, meski masih berusia batita, dimasukkanlah anak ke bermacam-macam les atau kursus. Melihat fenomena ini, lembaga les dan kursus, atau apa pun namanya, bermunculan bak jamur di musim hujan. Antrian para orangtua mendaftarkan anaknya pun terlihat semakin panjang dari waktu ke waktu. Tak cuma itu, produk-produk makanan untuk anak pun berlomba mencantumkan zat gizi ‘agen kecerdasan’ dalam kemasannya.
Agaknya, banyak yang dengan mudah menyimpulkan bahwa bila ingin menjadikan anak kita brilian, maka anak harus didaftarkan di berbagai les dan kursus, harus diberi makanan suplemen nutrisi jaringan otak, dan sebagainya. Apakah langkah ini tepat?
Brilian: Berkilau bagai Berlian
Sebelum berupaya mewujudkan anak brilian, sebaiknya kita mengetahui dulu definisi kata brilian. Psikolog senior Universitas Indonesia, Prof. DR. Utami Munandar, MPsi menganalogikan kata ‘brilian’ dengan kata ‘berlian’, salah satu jenis batu mulia. Menurutnya, ada kesamaan antara keduanya. ‘Sebagai batu mulia, berlian paling menonjol di kelasnya. Sama halnya, brilian di sini pun menginginkan seorang anak berkemampuan lebih sehingga menonjol dibanding yang lain. Itu sebabnya, banyak orangtua menginginkan anaknya brilian dengan berbagai cara.’
Sementara itu, Dra. Rose Mini A. Prianto, MPsi., menilai pengertian brilian saat ini masih rancu. Rose Mini, yang akrab disapa Romy, berpendapat bahwa pengertian brilian sendiri bukanlah gifted atau berbakat. Brilian, menurutnya, tidak hanya sekedar ber-IQ tinggi atau pintar matematika di sekolah dan dapat ranking. Tapi lebih dari itu, brilian harus memancarkan kemampuan lain di luar bidang-bidang tersebut.
Modalnya Kemampuan dan Bakat
Cara yang biasa ditempuh oleh para orangtua selama ini adalah memasukkan anak ke kursus dan les. Malah kadang-kadang tanpa bertanya dulu apa keinginan anak. Maka wajar jika hasil yang dicapai bak jauh panggang dari api. Apalagi kalau memang ada target menjadi anak brilian sungguhan. Ironisnya, kegagalan acap membuat orangtua semakin bersemangat menyuruh anak les, les dan les. Padahal, menurut Utami maupun Romy, cara ini tidak akan membuat kemampuan anak tergali, tapi malah sebaliknya.
Apakah mencetak anak brilian itu sulit? Tidak juga sebenarnya, asal orangtua mau lebih mengamati dan lebih memberi perhatian terhadap kemampuan anak. Sebab seorang anak bisa menjadi brilian jika orangtuanya mampu mengetahui atau menelusuri kemampuan apa yang dimiliki anaknya, lebih dari kemampuan yang lain. ‘Kemampuan-kemampuan itu kemudian bisa dikembangkan agar anak lebih menonjol. Selain itu, orangtua juga jadi tahu bakat anak,’ kata Utami yang juga salah seorang pencetus anak berbakat.
Bicara soal bakat, kadang untuk menjadikan anak kita lebih menonjol dibanding anak lain memang tak lepas dari aspek yang satu itu. Dengan mengetahui bakat anak, orangtua tak begitu sukar lagi mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anak agar lebih menonjol dibanding anak sebayanya. Romy lantas mengemukakan sebuah teori dari Rezulli, bahwa seorang anak berbakat adalah anak yang memiliki IQ dan kreativitas tinggi serta punya komitmen tinggi pada tugas yang diembannya. ‘Tiga syarat itu yang harus dimiliki agar seorang anak itu bisa disebut gifted atau berbakat,’ kata Romy yang kerap tampil di berbagai seminar maupun talkshow di televisi.
Mampu Memaksimalkan Potensi
Bagaimana ciri anak brilian? Romy menjelaskan, ciri-ciri brilian tak bisa diprediksi sejak dini. ‘Tapi, di dalam diri seorang anak brilian kemungkinan besar terdapat ‘sosok’ anak berbakat. Ini mengingat hasil sebuah penelitian yang menyatakan bahwa hanya 2,2 persen saja anak yang berbakat,’ imbuh Romy.
Ia mencontohkan pemain basket kelas dunia Micheal Jordan atau mantan juara Olimpiade di bidang bulu tangkis, Susi Susanti. ‘Mereka itu brilian dalam bidangnya masing-masing. Sementara untuk disebut brilian secara umum, orang tidak perlu harus menonjol. Yang penting, kapasitasnya betul-betul di atas yang dimiliki orang lain. Itu sebabnya saya sendiri lebih cenderung mengatakan bahwa anak brilian adalah seorang anak yang bisa memaksimalkan seluruh potensi yang ada pada dirinya,’ tutur Romy.
Persiapkan Berbagai Faktor
Untuk mencetak anak brilian, ada banyak faktor yang harus disiapkan oleh orangtua. Pertama, asupan gizi. Asupan gizi yang baik untuk calon anak brilian harus dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan (trimester pertama). Hal ini dikemukakan oleh dr. Rahmat, MSc dari bagian gizi Fakultas Kedokteran UI dan RSUPN Cipto Mangunkusumo.
‘Membuat anak jadi brilian harus dimulai sejak dalam kandungan. Sejak kehamilan trimester pertama, asupan protein ibu hamil harus cukup, tidak boleh kekurangan. Karena pada saat itu sedang terjadi pembentukan otak di dalam rahim,’ ujarnya. Senada dengan Rahmat, dokter anak dari RS Pondok Indah, Karel Staa M.D. pun mengatakan, ‘Banyak faktor yang bisa membuat anak menjadi brilian. Salah satunya, dengan memperhatikan asupan gizi ibu saat hamil.’
Kedua, lingkungan dan stimulus. ‘Untuk mendapatkan anak yang ‘lebih’ dari yang lain, orangtua harus mempersiapkan faktor lingkungan. Tanpa lingkungan yang mendukung, kemampuan anak yang sudah tergali tidak mengalami pengembangan,’ tegas Romy.
Sebagai ilustrasi, Romy mencontohkan seorang anak dari keluarga yang senang menyanyi. Sejak masih dalam kandungan, musical intelligence si anak sudah dirangsang. Tapi, bagaimana dengan aspek kecerdasan body kinestetic-nya’ ‘Kemampuan-kemampuan tersebut tidak datang bersamaan. Namun bisa jadi, kemampuan musikal datang lebih dahulu karena orangtua biasa menirukan lagu.’
Seiring perjalanan waktu, bayi yang cerdas secara musikal tadi bisa juga memiliki kemampuan berhitung atau kemampuan di bidang lainnya. ‘Namun harus dirangsang, agar hasilnya bisa lebih optimal.’ Apalagi mengingat setiap orang memiliki kemampuan yang tak merata. Seseorang yang menonjol di satu bidang, belum tentu bisa menonjol di bidang lain.
Peluang Multiple Intelligences
Bagaimana jika bayi telanjur lahir? Apakah masih bisa menjadikannya anak brilian? . Bisa. Teori multiple intelligence dari Howard Gardner menyebutkan ada tujuh kemampuan yang terdapat pada setiap orang, yaitu kemampuan verbal, kemampuan logis-matematik, kemampuan visual-spasial, kemampuan kenetis, kemampuan musikal, kemampuan iterpersonal dan kemampuan intrapersonal. Ketujuh aspek kecerdasan ini selalu bekerja in concert (bersama-sama) untuk memecahkan berbagai masalah. Dengan mengetahui adanya ketujuh potensi kemampuan tersebut, orangtua memiliki peluang untuk mengoptimalkan masing-masing potensi agar menjadi lebih menonjol.
Selain itu, perkembangan otak berlumlah selesai. Sampai usia 18 bulan, anak masih mengalami fase cepat (growth-spurt) perkembangan otak. Selama fase itu, Anda masih bisa mengoptimalkan aspek nutrisi, lingkungan dan stimulus. Dan kalaupun fase penting itu telah berlalu, Anda masih bisa membantu mengoptimalkan kemampuan anak Anda melalui pengayaan pengalaman. ‘Dengan memberikan pengalaman sebanyak mungkin dan mencoba meraih semua aspek kemampuan yang ada dalam diri anak, maka anak akan bisa memilih yang terbaik untuk dirinya.’
Motivasi
Segala upaya Anda untuk memiliki anak brilian akan sia-sia, jika Anda sendiri tidak memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik atau yang menonjol. ‘Doronglah anak meraih kecemerlangan atau derajat brilian itu. Misalnya dengan cara memberikan stimulasi atau rangsangan sejak dini dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada dalam diri anak tersebut.’ Namun kunci sukses paling penting dalam ‘proyek mencetak anak brilian’ ini adalah mengupayakan agar anak sehat dan bahagia. Itu saja. ‘Secara umum saya lebih cenderung menyarankan agar Anda
menjadikan anak-anak Anda sehat dan bahagia. Karena kedua hal itulah yang akan menentukan sejauh mana kapasitas atau potensi kemampuan di dalam dirinya bisa dioptimalisasikan dalam hidupnya,’ tegas Romy.[]

RSS Feed (xml)
