Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 24 Desember 2008

Punya Anak Brilian Bukanlah Mimpi!

‘Saya ibu rumah tangga. Punya anak usia 2 tahun dan 6,5 bulan. Si sulung, Aditya, amat lincah, ceria, sehat dan cerewet sekali. Sebagian orang yang telah mengenalnya akan menyatakan ia cerdas. Adit sangat suka menggambar. Melihat kegemarannya itu, saya dan suami mendaftarkannya ke sanggar melukis. Selain itu ia juga sudah bersekolah di sebuah playgroup dekat rumah yang memakai bahasa pengantar bahasa Inggris. Agar ia bisa lancar berkomunikasi, kami lalu menyertakannya dalam les bahasa Inggris untuk anak. Yang jadi pertanyaan kami, sudah benarkah cara kami mengoptimalkan kemampuannya?’
Itulah pertanyaan seorang ibu dalam rubrik konsultasi di sebuah media massa. Kalau mau jujur, sebenarnya pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan kita. Dengan alasan mengembangkan kemampuan anak, meski masih berusia batita, dimasukkanlah anak ke bermacam-macam les atau kursus. Melihat fenomena ini, lembaga les dan kursus, atau apa pun namanya, bermunculan bak jamur di musim hujan. Antrian para orangtua mendaftarkan anaknya pun terlihat semakin panjang dari waktu ke waktu. Tak cuma itu, produk-produk makanan untuk anak pun berlomba mencantumkan zat gizi ‘agen kecerdasan’ dalam kemasannya.
Agaknya, banyak yang dengan mudah menyimpulkan bahwa bila ingin menjadikan anak kita brilian, maka anak harus didaftarkan di berbagai les dan kursus, harus diberi makanan suplemen nutrisi jaringan otak, dan sebagainya. Apakah langkah ini tepat?
Brilian: Berkilau bagai Berlian
Sebelum berupaya mewujudkan anak brilian, sebaiknya kita mengetahui dulu definisi kata brilian. Psikolog senior Universitas Indonesia, Prof. DR. Utami Munandar, MPsi menganalogikan kata ‘brilian’ dengan kata ‘berlian’, salah satu jenis batu mulia. Menurutnya, ada kesamaan antara keduanya. ‘Sebagai batu mulia, berlian paling menonjol di kelasnya. Sama halnya, brilian di sini pun menginginkan seorang anak berkemampuan lebih sehingga menonjol dibanding yang lain. Itu sebabnya, banyak orangtua menginginkan anaknya brilian dengan berbagai cara.’
Sementara itu, Dra. Rose Mini A. Prianto, MPsi., menilai pengertian brilian saat ini masih rancu. Rose Mini, yang akrab disapa Romy, berpendapat bahwa pengertian brilian sendiri bukanlah gifted atau berbakat. Brilian, menurutnya, tidak hanya sekedar ber-IQ tinggi atau pintar matematika di sekolah dan dapat ranking. Tapi lebih dari itu, brilian harus memancarkan kemampuan lain di luar bidang-bidang tersebut.
Modalnya Kemampuan dan Bakat
Cara yang biasa ditempuh oleh para orangtua selama ini adalah memasukkan anak ke kursus dan les. Malah kadang-kadang tanpa bertanya dulu apa keinginan anak. Maka wajar jika hasil yang dicapai bak jauh panggang dari api. Apalagi kalau memang ada target menjadi anak brilian sungguhan. Ironisnya, kegagalan acap membuat orangtua semakin bersemangat menyuruh anak les, les dan les. Padahal, menurut Utami maupun Romy, cara ini tidak akan membuat kemampuan anak tergali, tapi malah sebaliknya.
Apakah mencetak anak brilian itu sulit? Tidak juga sebenarnya, asal orangtua mau lebih mengamati dan lebih memberi perhatian terhadap kemampuan anak. Sebab seorang anak bisa menjadi brilian jika orangtuanya mampu mengetahui atau menelusuri kemampuan apa yang dimiliki anaknya, lebih dari kemampuan yang lain. ‘Kemampuan-kemampuan itu kemudian bisa dikembangkan agar anak lebih menonjol. Selain itu, orangtua juga jadi tahu bakat anak,’ kata Utami yang juga salah seorang pencetus anak berbakat.
Bicara soal bakat, kadang untuk menjadikan anak kita lebih menonjol dibanding anak lain memang tak lepas dari aspek yang satu itu. Dengan mengetahui bakat anak, orangtua tak begitu sukar lagi mengembangkan dan meningkatkan kemampuan anak agar lebih menonjol dibanding anak sebayanya. Romy lantas mengemukakan sebuah teori dari Rezulli, bahwa seorang anak berbakat adalah anak yang memiliki IQ dan kreativitas tinggi serta punya komitmen tinggi pada tugas yang diembannya. ‘Tiga syarat itu yang harus dimiliki agar seorang anak itu bisa disebut gifted atau berbakat,’ kata Romy yang kerap tampil di berbagai seminar maupun talkshow di televisi.
Mampu Memaksimalkan Potensi
Bagaimana ciri anak brilian? Romy menjelaskan, ciri-ciri brilian tak bisa diprediksi sejak dini. ‘Tapi, di dalam diri seorang anak brilian kemungkinan besar terdapat ‘sosok’ anak berbakat. Ini mengingat hasil sebuah penelitian yang menyatakan bahwa hanya 2,2 persen saja anak yang berbakat,’ imbuh Romy.
Ia mencontohkan pemain basket kelas dunia Micheal Jordan atau mantan juara Olimpiade di bidang bulu tangkis, Susi Susanti. ‘Mereka itu brilian dalam bidangnya masing-masing. Sementara untuk disebut brilian secara umum, orang tidak perlu harus menonjol. Yang penting, kapasitasnya betul-betul di atas yang dimiliki orang lain. Itu sebabnya saya sendiri lebih cenderung mengatakan bahwa anak brilian adalah seorang anak yang bisa memaksimalkan seluruh potensi yang ada pada dirinya,’ tutur Romy.
Persiapkan Berbagai Faktor
Untuk mencetak anak brilian, ada banyak faktor yang harus disiapkan oleh orangtua. Pertama, asupan gizi. Asupan gizi yang baik untuk calon anak brilian harus dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan (trimester pertama). Hal ini dikemukakan oleh dr. Rahmat, MSc dari bagian gizi Fakultas Kedokteran UI dan RSUPN Cipto Mangunkusumo.
‘Membuat anak jadi brilian harus dimulai sejak dalam kandungan. Sejak kehamilan trimester pertama, asupan protein ibu hamil harus cukup, tidak boleh kekurangan. Karena pada saat itu sedang terjadi pembentukan otak di dalam rahim,’ ujarnya. Senada dengan Rahmat, dokter anak dari RS Pondok Indah, Karel Staa M.D. pun mengatakan, ‘Banyak faktor yang bisa membuat anak menjadi brilian. Salah satunya, dengan memperhatikan asupan gizi ibu saat hamil.’
Kedua, lingkungan dan stimulus. ‘Untuk mendapatkan anak yang ‘lebih’ dari yang lain, orangtua harus mempersiapkan faktor lingkungan. Tanpa lingkungan yang mendukung, kemampuan anak yang sudah tergali tidak mengalami pengembangan,’ tegas Romy.
Sebagai ilustrasi, Romy mencontohkan seorang anak dari keluarga yang senang menyanyi. Sejak masih dalam kandungan, musical intelligence si anak sudah dirangsang. Tapi, bagaimana dengan aspek kecerdasan body kinestetic-nya’ ‘Kemampuan-kemampuan tersebut tidak datang bersamaan. Namun bisa jadi, kemampuan musikal datang lebih dahulu karena orangtua biasa menirukan lagu.’
Seiring perjalanan waktu, bayi yang cerdas secara musikal tadi bisa juga memiliki kemampuan berhitung atau kemampuan di bidang lainnya. ‘Namun harus dirangsang, agar hasilnya bisa lebih optimal.’ Apalagi mengingat setiap orang memiliki kemampuan yang tak merata. Seseorang yang menonjol di satu bidang, belum tentu bisa menonjol di bidang lain.
Peluang Multiple Intelligences
Bagaimana jika bayi telanjur lahir? Apakah masih bisa menjadikannya anak brilian? . Bisa. Teori multiple intelligence dari Howard Gardner menyebutkan ada tujuh kemampuan yang terdapat pada setiap orang, yaitu kemampuan verbal, kemampuan logis-matematik, kemampuan visual-spasial, kemampuan kenetis, kemampuan musikal, kemampuan iterpersonal dan kemampuan intrapersonal. Ketujuh aspek kecerdasan ini selalu bekerja in concert (bersama-sama) untuk memecahkan berbagai masalah. Dengan mengetahui adanya ketujuh potensi kemampuan tersebut, orangtua memiliki peluang untuk mengoptimalkan masing-masing potensi agar menjadi lebih menonjol.
Selain itu, perkembangan otak berlumlah selesai. Sampai usia 18 bulan, anak masih mengalami fase cepat (growth-spurt) perkembangan otak. Selama fase itu, Anda masih bisa mengoptimalkan aspek nutrisi, lingkungan dan stimulus. Dan kalaupun fase penting itu telah berlalu, Anda masih bisa membantu mengoptimalkan kemampuan anak Anda melalui pengayaan pengalaman. ‘Dengan memberikan pengalaman sebanyak mungkin dan mencoba meraih semua aspek kemampuan yang ada dalam diri anak, maka anak akan bisa memilih yang terbaik untuk dirinya.’
Motivasi
Segala upaya Anda untuk memiliki anak brilian akan sia-sia, jika Anda sendiri tidak memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik atau yang menonjol. ‘Doronglah anak meraih kecemerlangan atau derajat brilian itu. Misalnya dengan cara memberikan stimulasi atau rangsangan sejak dini dengan mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada dalam diri anak tersebut.’ Namun kunci sukses paling penting dalam ‘proyek mencetak anak brilian’ ini adalah mengupayakan agar anak sehat dan bahagia. Itu saja. ‘Secara umum saya lebih cenderung menyarankan agar Anda
menjadikan anak-anak Anda sehat dan bahagia. Karena kedua hal itulah yang akan menentukan sejauh mana kapasitas atau potensi kemampuan di dalam dirinya bisa dioptimalisasikan dalam hidupnya,’ tegas Romy.[]

Bermain Bahasa Tubuh dengan Anak ala Cindy Crawford

Cindy Crawford, model jelita, ternyata tak hanya pandai berlenggak-lenggok di depan kamera dan di panggung peragaan busana.
Ibu satu anak ini punya tips menjalin komunikasi lewat bahasa tubuh bersama anak. Lewat bukunya, About Face, si cantik yang wajahnya bertebaran di pelbagai iklan ini menuturkan berbagai permainan dengan bahasa tubuh bersama si kecil. Selain mendidik, permainan bahasa tubuh ini bisa makin mendekatkan anak dan orang tua.
1. Menurut Cindy, permainan bahasa tubuh paling mudah dilakukan bersama anak, bahkan saat si kecil belum lancar berbicara. "Bahasa tubuh adalah bahasa pertama yang dikuasai anak saat ia belum mengenal kata-kata," katanya. Jadi, jangan takut, Bu. Pasti bisa dan hasilnya juga, seperti kata Cindy, luar biasa.
2. Sun Pipi IbuPermainan mengenal anggota badan dengan cara mencium pipi, hidung, kuping, bibir, antara anak dan ibu bergantian mendatangkan rasa nikmat. Ciumlah pipi anak dengan diikuti menyebut kata "pipi", bergitu seterusnya hingga ke ujung jari, rambut, tangan, dan bagian lainnya. Mintalah anak melakukannya bergantian. Jika anak belum bisa bicara, Anda yang menyebut nama anggota tubuh dan lihat apakah anak memahaminya. Lihatlah mimik lucu anak yang kegelian dan menikmati permainan mengenal anggota badan yang mengasyikkan ini.
3. Mana Hidungnya, Sayang? Permainan ini mengajarkan komunikasi dengan cara yang sangat mudah. Mintalah anak menunjuk bagian yang Anda sebutkan. Jika bisa, sertakan mimik wajah yang lucu dan mengundang tawa anak saat melakukannya. "Dek, coba beri tahu Mama, mana hidungnya?" Atau mintalah si kecil menunjuk meja, kursi, atau benda apa saja yang ada di dekatnya. Lakukan bergiliran. Permainan ini memberi banyak pelajaran. Jika Anda yang bertanya terlebih dulu, si kecil akan belajar bagaimana bersikap sebagai pendengar dengan menunggu jawabannya.
4. Cermin, Cermin di Dinding Permainan melihat ke dalam cermin adalah permainan menarik yang akan menyenangkan Anda dan si kecil. Berdirilah bersama si kecil di depan cermin dan ucapkan kata-kata, tunjuklah sesuatu, perlihatkan sesuatu, eksplorasi apa pun yang Anda suka. Tunjuklah hidung Anda, angkat tangan, atau lakukan apa saja dan minta si kecil melakukannya. Gerakkan pula boneka si kecil, bantal, sisir, atau apa pun yang ada di depan cermin, dan mintalah ia belajar menyebutnya. Bisa pula bermain mimik muka di depan cermin dengan menunjukkan senyum, tawa, mengerutkan wajah, dan beragam mimik wajah lainnya.
5. Ikuti MamaBuatlah sebuah arena di kamar tidur. Pakai benda-benda yang aman bagi si kecil. Ajaklah si kecil berkelana di sekitar arena yang Anda ciptakan. Minta anak mengikuti langkah Anda atau lakukan bergantian. Saat melakukan aktivitas ini, minta anak berjalan ke kiri, ke kanan, mundur, merunduk, naik, turun, dan sebagainya. Aktivitas ini memiliki banyak manfaat, tubuh bergerak dan komunikasi berjalan.
6. Main BusaSaat memandikan atau mandi bersama di kecil, ajaklah anak bermain busa. Ciptakan balon busa, bulatan, tanduk, kuping Mickey Mouse, hidung si badut, dan sebagainya. Permainan ini mengajar anak menjelajah dengan daya imajinasinya.
7. Permainan MeniruPermainan lucu ini mengadaptasi tingkah polah binatang. Tirukan tingkah binatang atau bunyi-bunyian binatang yang mudah dikenali. Anak akan dengan mudah bisa mengenalinya dari cara Anda menirukan gaya monyet, suara ayam jantan, dan lainnya. Permainan ini akan mengundang tawa anak dan kegembiraan Anda.
8. Ciptakan makanan lucu dalam menu si kecilHidangkan makanan dengan bentuk lucu di piring makan. Selain mengajak si kecil bermain dengan mengenal sayuran dan bentuk benda, permainan ini juga memberi kesempatan meningkatnya selera makan si kecil. Jangan salah, makan sayur adalah malapetaka bagi masa kanak-kanak.
9. Main Ciluk BaPermainan ciluk ba sangat menyenangkan si kecil. Anda bisa mengajarkannya kenyataan bahwa sesuatu bisa datang dan bisa hilang. Perlihatkan senyum Anda, lalu tutup wajah Anda, dan buka dengan menunjukkan wajah lucu. Lihatlah, si kecil pasti tertawa.
10. Ritual sebelum TidurKebiasaan berdoa dengan suara keras, baik untuk anak Anda. Kebiasaan ini mengajarkan si kecil mengungkapkan sesuatu dengan bahasanya. Bercerita atau membacakan cerita dengan gaya yang dramatis dan menyentuh, juga membuat anak belajar dari raut wajah dan cara Anda bercerita. Kelak, ia akan mengimitasi Anda.[]

Minggu, 14 Desember 2008

Akibat Sering Digendong Bayi Jadi "Malas"

Digendong memang membuat bayi merasa aman dan nyaman. Tapi kalau keseringan justru bisa berakibat negatif. Si kecil akan tumbuh jadi anak yang kurang mandiri, selalu takut salah, dan tidak kreatif. Sayang sekali, kan?
Boleh dibilang dunia bayi identik dengan keajaiban. Masih banyaknya hal-hal yang belum tergali maupun minimnya pengetahuan tentang dunia bayi membuat orang tua sering salah memperlakukan si kecil. Salah satu contoh konkretnya adalah menggendong bayi setiap saat sebagai upaya melindungi sekaligus mengungkapkan kasih sayang padanya.
Menanggapi kebiasaan itu, Tri Novida, Psi., dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan UI), yakin bahwa perlakuan orang tua terhadap bayinya pastilah bertujuan baik. Di masa bayi seorang individu masih berada dalam tahap attachment alias lengket pada orang-orang terdekatnya, terutama kedua orang tuanya. "Jika tahap ini bisa dilalui dengan baik, dalam diri anak akan tumbuh basic trust. Ini membuatnya menaruh rasa percaya pada orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Berbekal ini, si anak akan tumbuh sebagai pribadi yang hangat dan penuh percaya diri."
Hal senada dikatakan juga oleh dr. Anna Tjandrajani, Sp.A dari RSAB Harapan Kita, Jakarta. "Menggendong bayi itu perlu sekali, terlebih saat si ibu sedang menyusui bayinya. Dengan menggendong, terjalin aspirasi dan kontak emosional di antara ibu dan anak." Bahkan, lanjut spesialis anak yang juga berpraktek di Klinik Anakku Cinere, menggendong dengan metode kanguru selama 3-4 jam sehari memperbesar peluang bayi prematur untuk lebih cepat lepas dari keterikatannya dengan inkubator. Dengan metode ini, kondisi emosional maupun suhu tubuh anak bisa terkoreksi.
Sudah jelas, bayi memang harus digendong setiap kali ia butuh rasa aman, nyaman, dan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya. Jangan biarkan ia menangis berlama-lama sendirian. Anak akan lebih cepat tenang dan tidak cengeng jika kebutuhannya akan rasa aman dan nyaman terpenuhi dengan cara digendong dan dipeluk. Jangan takut pada anggapan lama yang mengatakan, menggendong si kecil saat menangis hanya akan membuatnya manja.
Sayangnya, belum semua orang tua sadar akan arti penting menggendong bayi yang sesungguhnya. Si kecil digendong hanya berdasarkan alasan kasihan kalau ia digeletakkan dalam boks sendirian, bukan karena manfaat yang bisa didapat. Padahal kebiasaan ini bisa dioptimalkan untuk menjalin interaksi yang aktif dengan si bayi. Ajaklah ia bercakap-cakap dan kenalkan pada hal-hal yang baru karena hal itu merupakan stimulasi yang sangat berguna.
Jika Keseringan Digendong
Selanjutnya, jika bayi sedang merasa nyaman dan sudah mendapatkan rasa aman, berikan kesempatan kepadanya untuk mengeksplorasi dan mengasah potensinya sendiri. Tak perlu menggendongnya sepanjang waktu selagi terjaga, karena untuk mencapai suatu kemampuan ia harus melalui proses belajar, berlatih, mencoba dan mencoba, serta berulang kali bangun dari kegagalan. "Bagaimana dia bisa membangun daya upayanya jika tidak melewati proses belajar?" tukas Tri.
Jadi walaupun bayi perlu digendong, ia pun perlu diberi kesempatan lepas dari "kungkungan". Jika selalu terlindungi dalam gendongan, eksplorasi bayi terhadap lingkungan jadi terbatas. Masuk akal bukan? Keterbatasan ini bisa menyebabkan anak tertinggal dalam hal kemampuan yang seharusnya sudah dimiliki di usianya. Contohnya, gara-gara kebanyakan digendong, di usia 2 bulan ada bayi yang belum bisa mengangkat kepalanya saat ditengkurapkan. Bukan tidak mungkin pula bayi usia 8 bulan yang seyogyanya sudah bisa ditatih, merambat saja belum karena terlalu sering digendong.
Amat disayangkan jika potensi yang dimiliki bayi tak bisa muncul karena salah perlakuan dari orang tua atau pengasuhnya. Ketertinggalan ini jelas bisa berdampak pada kehidupannya. Contoh sederhananya, saat anak sebayanya sudah bisa lari, dia baru belajar berjalan. Tentu saja untuk bisa mengejar ketertinggalan itu butuh usaha ekstra yang mungkin membuatnya lelah dan enggan mencoba lagi. Di sisi lain, menurut Anna, dengan selalu menggendong bayinya orang tua jadi tidak tahu perkembangan seutuhnya dari si buah hati.
Selain itu, bayi yang terlalu banyak digendong cenderung berkembang menjadi pasif. Kepasifan ini bukan tidak mungkin bertahan sampai anak berusia dewasa yang terlihat dari sikapnya yang penakut serta peragu dalam mencoba segala sesuatu.
Menggendong bayi sepanjang waktu akhirnya sama saja dengan bersikap terlalu melindungi yang membuat anak dibayangi rasa bersalah jika mencoba sesuatu tanpa "restu" ayah, bunda, atau pengasuhnya. Akibatnya, pudarlah bibit kreatif dan rasa percaya diri si anak karena orang tua tidak memupuk dengan semestinya. Di masa depan, besar kemungkinan anak memiliki ketergantungan yang berlebihan terhadap sosok sentralnya.
Ditilik dari sisi kedokteran, bayi yang terlampau sering digendong juga tidak leluasa dalam bernapas. Hanya saja sejauh ini Anna mengaku belum menemukan penelitian yang membuktikan adanya keterkaitan antara kebanyakan digendong dengan gampangnya bayi jatuh sakit. "Kecuali kalau yang menggendongnya sedang sakit sehingga kemungkinan besar anak tertular."
Yang jelas, ada banyak manfaat jika anak diberi kesempatan bergerak bebas sekalipun hanya sebatas di lingkungan rumah. Baik manfaat bagi fisik dan kesehatannya, maupun bertambahnya pengetahuan yang merangsang kemampuan otaknya. "Secara medis aktivitas ini juga menunjang anak untuk tumbuh menjadi bayi yang sehat dengan daya tahan tubuh yang lebih kuat. Sementara saraf-sarafnya pun akan terlatih dan teroptimalisasi dengan baik."
Kapan Harus Digendong?
Mengenai kapan bayi perlu digendong, ada beberapa situasi dan kondisi yang menurut Anna perlu diperhatikan, yaitu:
1. Bila memang tidak memungkinkan melepaskan anak sendirian, seperti di pesta, mal, restoran atau tempat-tempat ramai dan membahayakan.
2. Kala anak membutuhkan rasa aman yang bisa terdeteksi dari tangisan dan mimik wajah maupun bahasa tubuh.
3. Saat bayi takut terhadap sesuatu. Menggendongnya jauh lebih baik ketimbang mendiamkannya yang bisa berakibat fatal. Dalam kondisi ekstrem, anak bisa tumbuh jadi penakut atau mengalami trauma.
4. Waktu bayi membutuhkan rasa nyaman. Menggendongnya bisa membantunya kembali tenang setelah mengalami kejadian tak menyenangkan. Contohnya selagi disuntik imunisasi.
Biarkan Bebas di Tempat Yang Aman
Bayi yang banyak diberi kesempatan untuk lepas bebas akan belajar tentang banyak hal:
Eksplorasi Lingkungan
Anak bisa memperoleh banyak stimulus, lebih mengenal lingkungannya dan mendapat pengetahuan yang lebih luas mengenai benda-benda dan secara sederhana tahu pula ragam bentuknya. Semisal, "O... kalau benda ini dipukul-pukul, ada bunyinya."
Latihan Kemampuan Motorik
Dengan dibiarkan lepas bebas, dengan sendirinya anak akan berusaha mengaktifkan atau memfungsikan seluruh anggota tubuhnya. Otot-otot anak pun akan terlatih. Begitu juga dengan keseimbangan dan kontrol diri. Anak mendapat pemahaman bahwa dengan berdiri sambil berpegangan, ia tidak akan jatuh. Atau mendapat pengalaman baru bahwa jika turun dari tempat yang lebih tinggi, haruslah kaki dulu supaya tidak jatuh terjerembab.
Latihan Kemampuan Persepsi
Pengetahuan bayi mengenai orientasi arah dan tempat juga jadi terlatih. Dengan merangkak ke sana kemari bayi jadi tahu, "Kamar ayah dan bunda ada di sebelah kamarku dan di luar ada rumput tempat aku biasa diajak jalan-jalan sama ayah dan bunda."
Belajar Memahami Hubungan Sebab Akibat
Sekalipun sangat sederhana, bagi bayi konsep hubungan sebab akibat sangatlah berharga. "Kalau aku berdiri di lantai yang ada airnya, aku bisa terpeleset jatuh." Atau, "Oh, pantesan ayah suka bilang, 'Awas jatuh' ya. Soalnya kalau jatuh, aku pasti kesakitan."
Belajar Memahami Proses
Contohnya saat mendekati kakak yang mengiming-imingi sepotong kue, ia harus berusaha berjalan mendekati si kakak yang saat itu berdiri agak jauh.[]